Tidak kutemukan jejak kemenangan di sini, tidak juga detak-detak kebebasan hati. Pengap dalam semesta mengumpal dada. Tuhanku, nama-Mu didengung-dengung jiwa-jiwa suci, tapi aku bahkan gagap mengeja huruf pertamanya. Tanah dan langit yang terpijak hilang idea, tanpa wajah, menyarungi aku, gundah.
Kemenangan! Mereka meneriakkan kemenangan! Tuhanku, serdadu yang mangkir ini, malah menjauhinya. Tuhanku, aku kehilangan makna hari-hari. Hati menuntut lebih deras dari detakan detik jam, nafsu meracau melebihi kerasnya firman-Mu. Urat kenikmatan terus menarik-narik, menyorongkan hidangan pembuka murka-Mu.
Wajahku retak, seratus kemenangan meninggalkanku. Apalah etinya, apakah bererti, setumpuk amal tambal-sumbal yang kuhendaki khusus untuk-Mu?
Kalau kemenangan tak kau beri, salaam, cukup basahi kerongkonganku dengan salaam.