Maafkan aku kawan, maafkan jiwa yang bebal ini. Kapal yang kubawa terlalu liar rupanya, aku yakin kau tahu, kaupun menyimpan jiwa yang semacam itu jauh dalammu, tapi kau lebih mampu menaklukannya, kau mampu membelokkannya pada saat dan putaran yang tepat. Aku??? Selaut saja tersesat, biar seribu orang sudah bicara arah yang harus kutempuh, tetap saja tak kudengar. Jiwa ini seperti menggila, melampaui perintah dan inginku sendiri, dan (selalu) lagi-lagi kami (aku dan jiwaku) tersesat entah dimana. Aku dapat melihatmu, mereka, tapi suaraku tak sampai, begitupun suara kalian. Jiwa ini terlalu memusuhi perintah, ingin bebas sebebas-bebasnya; tapi bodoh. Dan jadilah kami jiwa raga tanpa sauh, tanpa pelabuhan pasti dalam pelayaran-pelayaran kacau.
Luka menitik dengar panggilanmu, aku seperti meninggalkanmu tanpa menoleh, tanpa mempertanggungjawabkan api yang pernah kita tiup bersama; dan kau kini sendirian menjaganya dan sedari dulu aku memang sering membuatmu sendiri atau menunggu. Aku tak ingin meminta maaf padamu, takut maaf itu melambangkan berpalingnya aku sepenuhnya, aku tak boleh.
Sama sepertimu, jiwa ini masih lengang mencari arah kemana ia menyelamkan diri utuh penuh. Kata yang selalu menggetarkan itu, seni, seniman, menjadi kalimat yang tak beralas, paragraf tak berinduk, lantas kesepian dalam haus tak henti.
Maafkan aku kawan, maafkan jiwa yang bebal ini. Tapi ini bukan titik, selama nyawa masih bersabung, selama itu kemungkinan tak pernah mati. Yang sudah tak mungkin terulang, tapi langkah sejati akan terus membuat jejaknya.
Masih ada langit yang lebih luas lagi.... Kupikir kesanalah kita harus berenang, bersama, ruang dan waktu bukanlah halangan. Selama kita masih melangkah, kita masih beriringan.