Saturday, October 20, 2007

Radja - Jujur

Duhai kekasih pujaan hati ku
Dapat kah kau memberi ku satu arti
Sedikit rasa yang bisa ku mengerti
bukan sumpah atau janji

Bukti kan lah bila kau ada cinta
Setulus hati mu bisa memerima
Sebatas kejujuran yang kau miliki
Bukan sekedar bersama

Jujurlah padaku bila kau tak lagi cinta
Tinggalkankah aku bila tak mungkin bersama
jauhi diriku lupakanlah aku oh..oh..oh

Jujur lah padaku
Bila kau tak lagi suka
Tinggalkanlah aku bila tak mungkin bersama
Jauhi diriku lupakalah aku
selamanya
Bahagia merekah
bila hujan datang
walau hati ini sakit bagaimana
rintiknya menjinakkan
galau dan dengki

hujan, kegelapan, dan angin
kesanalah aku berlari
jika dunia disekitar tak hendak menampungku

dalam kegelapan
menikmati derai tawa hujan pada bumi
hati menjadi lerai, kepala seperti ditadahi awan
ini adalah ruang pesta malaikat


hujan pun bercerita -selalu cerita yang sama-
"Manusia lahir dan menangis,
ia lahir bersama galau, meneriakkan kegelisahan yang murni.

Hujan, kegelapan, dan angin
adalah ruang rahim ibu yang penuh kasih
ruang tanpa alasan, dan kecaman.
segalanya diluluhkan menjadi senyum.

Dalam senyum
"Ah, hujan...."

senyumkah aku?
.... yang aku tau,
hanya untuk membunuh!
Bertahanlah

Bertahanlah
ketika semua yang tampak
penting meninggalkanmu
bertahanlah
ketulusan akan terus dikupas
dengan perpisahan
dengan kemustahilan

Ketulusan
adalah buah yang harus dibuka kulitnya
berduri, ataupun keras.

Kemurnian adalah pucuk mawar
penuh duri tangkainya

Bertahanlah

aku?
mungkin akan
aku hancur lumatkan!
dua yang berbeza, di waktu yang satu

barangkali aku sudah terlalu penat mengejar
satu bayang yang berhantu
berpusing, berlegar di setiap sudut
bersama harap yang tidak mungkin jadi nyata

barangkali juga aku sudah terlalu penat dikejar
satu bayang yang bertopeng
menghimpit, menekan di setiap arah
bersama harap yang telah luluh menjadi debu

ya....
aku telah penat!
Tolonglah.
hari ini juga mimpi.... maka biarkan ia datang

umpama kapal dan pelabuhan....
dan,
kapal yang berlabuh adalah aku.

sedang kamu?
cuba katakan

katakan,
jika tiada dalam hatimu
apa yang kau mahu
agar tidak aku
terus menjadi penunggu

katakan,
apa yang berada dalam jiwamu
usah terus bersembunyi
kerna aku tidak dapat membaca
apa yang cuba engkau lakukan
Semua orang tak faham. Dan tak akan faham.
aku atau kau yang tidak mahu faham
Love is a beautiful dream.
kau semua yang baik

kau semua yang bagus

kau semua yang pandai berkasih

kau di kelilingi orang yang mulia?

kau di kelilingi orang yang pandai menunjuk kasih

kau di kelilingi orang yang bersopan

kau di kelilingi orang yang berhemah

kau di kelilingi orang yang pandai-pandai

kau di kelilingi orang yang bijak berkata

kau di kelilingi para pujangga yang memuji-muji kasih mu

kau....
apa lagi?
semuanya kau, kau, dan kau....
aku dah bosan dengan hidup bertulang kata.

kerana kau aku masih di sini
kerana kau ku bisa menangis
semuanya kerana kau dan kau...

aku....?
menunggu mati saja baik
reput ke bumi.

ah!

tanpa aku....
kau kan tetap berkilau gemerlapan
beribu-ribu bintang yang sudi menemankan

tanpa aku....
kau takkan pernah sunyi
begitu banyak anak-anak ikan
yang berlari-lari menemani

tanpa aku....
senyum mu tetap menghiasi hari

tanpa aku....
kau takkan kehilangan diri
banyak yang sudi menuntun mu
membawa pergi

tanpa aku...
KAU TAKKAN PERNAH MATI

yang mati AKU
BUKAN KAMU.

disini ada pertanyaan....
bodoh kah manusia yang bernama AKU?

disini juga ada jawapannya....
entah....
sampai DISINI.... AKU kehilangan kata.
tak tau nak letak mana hati yang sakit ni....

bagus!

kau panggang lah hati aku ni.... sampai legam hitam lumat.

Thursday, October 18, 2007

Ada yang bertanya,
mengapa air mata mu mengalir,
lantas ku katakan kerana aku menangis

Ada yang bertanya,
mengapa engkau menangis,
lantas ku khabarkan aku berduka

Ada yang bertanya,
mengapa cerita mu duka,
lantas ku beritakan hati ku terusik

Ada yang bertanya,
mengapa hati mu terusik,
lantas ku ceritakan kisah cintaku

Ada yang bertanya,
mengapa kisah cintamu,
lantas ku terdiam.

dan.... maukah kau tau kisahnya....?
Selama masih kumiliki sinar kasihmu
tak akan aku kehilangan arah
walau apabila
hilang sinar mataharipun
meredup

Jangan kau ragukan cintaku
ia bagai gurun pasir
yang tak pernah jemu
menjeritkan nama hujan

Kalau kelmarin langkah cinta kita
selamat menjejaki setiap cubaan
cubalah kau kaji mengapa begitu

Bukankah itu kerana aku tetap mengharap
kau sudi menemaniku menempuh dunia ini?
dan,
Dia masih mau kita bersama?

Bukankah kerana kita selalu
saling membantu bebas dari belenggu
kepungan kesepian dan kehampaan?

Bukankah kerana bersatu kita
saling mendorong dan melapangkan
jalan dengan tenaga sukma cinta?

Kekasih....
ada yang perlu kau tahu bahwa
tak ada yang perlu ditunggu
didalam menyikapi cinta dan rindu

Lihat! perbuatanku akan memberitahu
tentang rinduku dan bahagiaku
bila bersamamu
dan kau selalu ada untukku.
Setiap detik aku hitung degup jantungmu yang hadir
disela derap jantungku
Setiap saat aku hitung nafas rindumu yang berhembus
di sela-sela hela nafasku
Setiap waktu bayangmu berkelebat di ujung rinduku
muncul menggoda mengikuti irama jiwaku

Kekasihku,
engkaulah yang selalu membuatku sibuk menghitung cintamu
di setiap waktu hidupku
Jangan pernah berhenti membuatku berhitung kasih
aku ingin engkau selalu hadir setiap waktuku
membuatku sibuk menghitung cintamu
yang tiada terbatas untukku
Aku bukan penulis ternama
aku tidak tahu cara mencuri hati mu
dengan bait kata nan syahdu
aku hanya tahu menulis nama mu
dalam kalbu ku

Aku bukan seorang pujangga
yang bisa mengikat rasa hati
semua yang pendengar mengerti
tentang kamu yang aku kenali
tentang aku dan isi hatiku

Aku juga bukan seorang pelukis
tidak betah aku menafsirkan rasa
diatas kertas putih bersih
tak pandai aku melukis wajahmu
walau itu sebenarnya yang aku mau?

Aku bukan siapa-siapa
aku cuma insan biasa, tiada apa-apa
aku cuma seraut senyuman
dan sebuah hati penuh cinta
yang aku berikan untukmu

Dan....
sudikah kau menyambutnya
walau hanya sebuah senyuman....

Wednesday, October 17, 2007

DAN bahawa sesungguhnya, Dialah yang menyebabkan (seseorang itu bergembira)
tertawa dan menyebabkan
(seseorang itu berdukacita) menangis.


Surah An Najm, 43.

aku menangis....?
hanya 'Dia' yang tahu.
Bertanyalah kepada mereka (yang musyrik itu): Siapakah Yang memberi rezeki kepada kamu dari langit dan bumi? Atau siapakah yang menguasai pendengaran dan penglihatan? Dan siapakah yang mengeluarkan makhluk yang hidup dari benda yang mati dan mengeluarkan benda yang mati dari makhluk yang hidup? Dan siapakah pula yang mentadbirkan urusan sekalian alam? (Dengan pertanyaan-pertanyaan itu) maka mereka (yang musyrik) tetap akan menjawab (mengakui) dengan berkata: Allah jualah yang menguasai segala-galanya! Oleh itu, katakanlah: (Jika kamu mengakui yang demikian), maka mengapa kamu tidak mahu bertakwa?

(Surah Yunus ayat 31)


Kadang-kadang aku keletihan di perjalanan ini.... Namun kadang-kadang aku begitu bersemangat meniti harapan masa depan....

Selamat Hari Lahir....

Bismillahirahmanirrahim.

Allah Berfirman dalam Al Quran Surah Maryam 15:
Wasalaamun 'alaihi yauma wulida.....
Ertinya : Allah berfirman," Selamat/Sejahtera atas diri-nya
( Nabi Yahya) pada hari ia dilahirkan......" Dan Allah Berfirman dalam Al Quran Surah Maryam :33 : "
Wassalaamu alayya yauma wulidtu...
" Ertinya : Allah berfirman," Berkata Isa putera Maryam,"......dan keselamatan/Selamat-Sejahtera semoga dilimpahkan kepadaku pada hari aku dilahirkan....."

Dua ayat diatas adalah petunjuk bagi orang-orang yang bermata batin dan berfikiran jernih bahawa mengucapkan Selamat atas seseorang pada hari ia dilahirkan adalah mencontoh perbuatan Allah, Tuhan semesta Alam dan contoh dari perbuatan dari para Nabi, khususnya Nabi Isa yang mengucapkan Selamat atas kelahiran dirinya.

Jadi kalau kita mengucapkan " Selamat ( Semoga Allah melimpahkan Kesejahteraan) kepada seseorang pada ia dilahirkan "atau" atas anak yang dilahirkan" Termasuk mengucapkan selamat ulang tahun itu perbuatan kasih sayang yang dicontohkan Allah kepada kita di Quran dan mencontohi perbuatan Nabi kita Isa AS yang mensyukuri atas hari lahirnya.


hari lahir
usia meningkat
maut mendekat

"selamat hari lahir"....
kepada siapa....? aku.....?
kenapa lambat....?

Hai ya Allah.... berilah kebaikan selama mana ia membawa kebaikan.... janganlah kau matikan aku kecuali dengan keimanan. janganlah kau pisah-pisahkan 'kami' kecuali dengan kematian yang Engkau redhai.

selamatkanlah ibu bapa kami. kasihilah mereka sebagaimana mereka mengasihi kami sedari kecil. berikanlah mereka kesejahteraan dan limpahan kasih sayang. jauhkanlah mereka dari segala mara bahaya.

jauhkanlah kami dari segala fitnah kubur dan azab api neraka. sungguh aku tak layak masuk syurgaMu, tetapi janganlah Kau jauhi aku dari segala RahmatMu.

walau berapa kali lagi harijadi ku akan berdatangan.... tetapi janganlah sekali-kali Kau jauhi aku dengan limpahan kasih sayang.... baik dari yang memusuhi aku maupun yang mengasihi aku.

Ampuni lah dosa-dosa mereka yang menganiaya ataupun yang teraniaya. janganlah kau azabi mereka walau dengan sekecil-kecil azab. sebaliknya kau lembutkanlah hati mereka dengan penuh limpahan kasih sayang. menyedari setiap yang keterlanjuran.

ya Allah....
putih bersihkanlah hati kami.... walau setidak putih salju.... jauhi kami dari segala amarah yang menyesatkan. syaitan yang melagakan. jauh dari rasa kasih sayang. dendam dan permusuhan. tumbuhkanlah titik-titik hitam di hati kami seperti bunga yang kan mekar pabila tiba masanya, jangan kau jadikan titik-titik hitam itu seperti minyak yang menyambar api sedia sahaja membakar hangus semuanya.

di pengakhir yang tak akhir ini.... aku hambaMu yang lemah dan hina ini merayu lagi memohon padamu.... janganlah kau jadikan kami termasuk didalam orang-orang yang tersesat lagi merugikan. tunjuki kami jalan yang Engkau redhai. tuntunlah hati kami supaya mencintai apa yang Engkau cintai. juga membenci apa yang Engkau benci. memusuhi apa yang Engkau Musuhi dan mengasihi apa yang Engkau kasihi.

amenn ya rabbil alamin....

catatan di akhir haribulan.... 17.10.2007.
di mana aku....?
Usia Tua

Andainya kuhidup ke
usia tua; Kupinta supaya
berpunya sedikit budi,
wibawa dan daya jenaka;
supaya tidak disingkir
bila telah kecut berut
dan lesu tidak bermaya;

Tetapi dihargai dan
dijagai baik umpama
antik saujana.
Umur itu bayangan jiwa

Jika kau telah melupakan segala impian
Jika tiada lagi harapan, jika kau tidak lagi
memandang ke depan,
Jika bahang azammu telah kedinginan,
Maka tualah kamu sedemikian.

Tapi jika kau menikmati hidup penuh daya,
Dan dalam hidup kau masih mampu berjenaka,
Jika kau masih cinta pada asmara,
Maka pastilah kau masih belum tua.

Walau bagaimana masa itu berlaluan,
Walau berapa hari jadimu yang berterbangan.

Thursday, October 11, 2007

Duhai Kasih….

Selama mawar masih merekah dimusim semi,
Selama mentari masih bersinar dari tiap sudut-sudut langit,
Disetiap denyut nadiku,
dari setiap aliran serta hembusan nafasku,
Engkaulah air kehidupan serta benih-benih harapku
selamanya bersemi.

Duhai kerlip malam bertabur bintang,
Engkau adalah teman jiwa dikala sunyi,
Engkaulah pendengaran dan penglihatan mata hatiku.
Duhai tatap keindahan dikala kelam,
Bawalah cahaya itu dari kelopak matanya,
Payungilah jiwaku dari pancaran teduhnya,

Duhai pesona malam,
Dimalam ini aku termenung, jemari kerinduan telah membuatku
Selalu terjaga,
Masih setiakah kau menerangi dan menghias malam pekatku?
Bagaimana aku mengetahuinya?
Ataukah ini hanya ilusi ku semata?
Bila sayap-sayap cintaku meluruh dan melayu dalam
Seandainya saja tak kunjung kutemukan bahagia,
Dalam cinta yang tersembunyi,
Masihkah kau setia mendampingiku hingga nafas
Terakhirku?

Kekasihku....
Aku adalah kupu-kupu, aku dan bunga adalah
Sepasang kekasih.

Angin kehidupan mempertemukan dan memisahkan kami.

Aku terbang dan aku datang dari atas singgahsana cintamu,

Untuk menggabungkan sengat kasihku dengan putik
Indahmu,

serta keindahan warnanya yang menyatu dengan
keindahan sayap-sayap cintaku.

Menjelang segarnya pagi aku menghampiri kekasihku,

dan ia mendakapku dengan kelopak indahnya.

Disenja hari kutorehkan dan kubacakan syair-syair
Kerinduanku,
lalu ia tersenyum,
dan melambaikan kelopak jiwanya padaku…..

Kupu-kupu bersayap yang oleh cinta tidak diberi
kekuatan,

tidak akan bias terbang dari balik dedaunan untuk
melihat keindahan dan keagungan cinta,

Dimana jiwaku dan jiwa kekasihku menyatu dalam setiap
Hembusan dan tarikan nafas keabadian….

Ketika angin menyandungkan bait-bait cinta,

Ruh semesta yang mendengarnya akan tertunduk
dalam bulir airmata bahagia….

Disaat angin bergolak, dan hati terluka….

Kupu-kupu terbang susuri taman-taman hati,

dilihatnya bunga-bunga merekahkan warna keindahan
jiwa…

putik indahnya takkan pernah mendengar…. Ketika alam
menyandungkan bait-bait kehidupan….

Kekasihku…..
aku ingin engkau mengenalku sebagai keindahan kupu-kupu
yang pernah tertatih dalam kegelapan….

Aku ingin engkau mengingatku sebagai makhluk yang
Pernah terkurung sepi

dalam selubung kegetiran….

Duhai,

keindahan jiwa yang menghias taman hatiku,

Tak ada hari-hari yang lebih indah daripada hari-hari
Yang dihiasi oleh keindahan cinta….

Tak ada badai yang lebih menakutkan selain badai amarah mu yang kerdil

tetaplah dalam genggaman erat

kepakan syair keabadianku, dan….

Jadilah pengikut setia atas singgahsana keajaiban
cintaku…..
jangan pernah untuk tidak berharap, jika ingin menari di puncak gunung. tak perlu ada kepura-puraan kerana diri adalah beribu anak panah yang melesat menembus tabir ketiadaan.

perjalanan yang berliku ini, jurang, bebatuan dan hutan rimba dan binatang buas merupakan batu asah untuk menajam mata jiwa. berkemahlah di setiap kobaran api, petik panasnya dan jadikan melodi cinta; kenikmatan yang paling terkesan, ketika lawan berikrar menjadi kawan.

datanglah dengan hati embun ke taman siang. tebarkan benih-benih malam, agar keteduhan dan kesejukan menyalar ke hari-hari yang menanti. dari dirilah keharuman dunia berasal.

tak usah mencari sebutir debu di gurun pasir, tapi rasakan hembusan angin yang menerpa muka. baca setiap tanda dari cahaya yang menjelma dan pancangkan denyut nadimu disana.
Sepetang Di Pinggir Bukit

Sepetang di pinggir bukit
Anak dagang di perantauan
Terkenang adik bukan, bukannya sedikit
Nasi terhidang tidak tertelan

Ulang-ulang sayang pergi ke titian
Tambat kaki terkukur yang lalu
Alang-alang sayang kita bercintaan
Hasrat hati sekubur denganmu

Pinggan retak di tapaklah tangan
Makanlah sirih berpinang tiga
Jalan semak sayang tanah berlumpuran
Kerna kasih kuharungi juga

Sepetang di pinggir bukit
Anak dagang sebatang kara
Rindukan adik bukan, bukannya sedikit
Tidur bertilam si airmata

Monday, October 8, 2007

setelah agak lama mundur dan mengendur.... hari ini ku buka kembali blog ku ini... tak ada open ceremony, tak ada potong reben, tak ada yang berhormat datang merasmikan.

apa susah... aku yang tutup dan aku yang buka... kan sesedap rasa ja? sabar ja la.... aku dah puas sabar sebenarnya... terlalu baik orang pijak kepala, terlalu jahat orang kata kita tak beradab, tak peduli orang kata tuli, beramah tamah orang kata hebat berpura.

aku tak boleh berjanji (mungkir janji tu kan Allah murkai...?) yang aku takkan menutup blog ini lagi. atau suatu masa bila semak dah naik ke kepala aku delete kan saja semua?

entahlah.... aku tak suka berkeluh kesah... kering air di lautan nenek aku kata. tetapi tu ajalah yang aku sebut. tak kering pulak air di laut. air liur aku yang kering adalah. apa-apa ajalah... asal hati aku jangan kering sudah!

macam ni sajalah.... selagi terdaya nak menulis aku akan menulis.... selagi belum ada yang muak aku tetap akan berkuak.

tetapi andai suatu masa saat kalian datang bertandang.... tak ada lagi pintu atau tingkap yang terbukakan atau sahaja taman yang tak pernah indah ini telah terkubur di alam maya... maafkan aku... itupun jika ada musafir yang tersesat sudi melepas lelah di sini. andai tak pernah ada, hanya aku dan aku sahaja yang tau. tak perlulah meminta maaf kepada siapa-siapa.... kecuali mohon maaf kepada diri sendiri. kepada Tuhan. kepada alam. kepada langit. kepada bumi. aku tak pernah jadi manusia yang baik. sentiasa menyakiti. sentiasa melukakan.

Tinggallah KASIH.... Tinggallah sayang....
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Sudahlah tu. Cukuplah. Janganlah difikirkan sangat. Apa yang berlaku tu biarlah berlalu sahaja. Ambil ia sebagai iktibar. Kau yakin bukan, setiap yang berlaku, terselindung hikmah di sebaliknya. Dan kau masih yakin bukan, Allah itu Maha Adil dan Maha Baik. Dia tak akan menguji hambaNya dengan apa yang tidak mampu kau hadapi. Ingat itu baik-baik wahai diri. Ingat itu baik-baik. Ingat itu selalu.

Dunia selamanya begini. Kau tak akan dapat lari dari kenyataan. Kenyataan bahawa di atas dunia yang sementara ini kau akan ketemu dan dipertemukan dengan manusia pelbagai karenah pelbagai ragam. Kau selamanya tidak akan dapat lari dari itu semua. Terimalah ia sebagai satu ujian dan cabaran. Hendak atau tidak, kau kena hadapi semuanya. Semuanya kau faham? Jangan mengada-ngada hendak memilih apa yang kau mahu sahaja. Apa kau ingat dunia ini kau yang punya. Sedarlah wahai diri. Dia juga sepertimu. Dia juga hanya manusia biasa sepertimu jua. Tuhan tidak melihat dia dan kau sebagai makhluk yang berbeza. Melainkan Tuhan melihat apa yang ada di dalam hatinya dan di dalam hatimu. Apa kau mahu Tuhan melihat titik-titik hitam yang kian membentuk gumpalan besar dalam hatimu? Apa kau tidak malu begitu?

Kau kena ingat, Tuhan juga melihat dia sebagaimana Tuhan melihatmu. Dia juga tidak sesekali terlepas dari pandangan Tuhan. Jadi kenapa kau masih berkeluh-kesah begitu. Mengapa masih seolah-olah tidak yakin dengan Tuhan? Kenapa masih mahu marah-marah begini? Biar sahajalah jika dia mahu berpura-pura. Biar sahajalah dia dengan lakonannya. Biar sahajalah dia bermanis muka di hadapan manusia lainnya. Biarkan sahajalah. Kerana dia juga tidak terlepas dari pandangan Tuhan. Serahkanlah kepada Tuhan untuk mengadili semua ini. Kau sebagai manusia biasa, bersikap santunlah dengannya. Usahlah berdendam wahai diri. Usahlah begitu lagi. Terimalah dia seadanya. Kerana dia juga manusia biasa sepertimu.

Aku berdendam...? oh... tidak....

Terluka...?.... entahlah.... aku dah lelah nak memikir.

Sunday, October 7, 2007

Saat gemuruh itu reda
Yang terdengar hanya hening
Tak ada lagi isak apalagi sesak
Sendiri di depan beranda kesedaran
Memunguti keping-keping hati
Merekatkannya satu demi satu demi satu
Dan menyimpannya baik-baik
jauh di lubuk terdalam sana
Sambil kembali berharap
Semoga ia kembali terjamah
Oleh tangan kerinduan jauh di sana
Kerana tak ada yang pernah boleh mengambilnya
Kecuali ia sang belahan jiwa

di luar hujan pun mulai reda...

hujan hatiku bilakah usainya....?
Kamu adalah lautan yang berdebur tanpa suara. Gelombangmu membadai sepanjang kerinduanku. Menghempas sepi di sepanjang pantai cintaku. Disini aku tegak berdiri di bibir pesisir yang luka oleh serpihan pasir kerinduan. Kusaksikan kau menggelombang sendiri, badai memporak buihmu dalam hening.

Terasakah olehmu rindu yang kurasa saat dingin riakmu memeluk mata kakiku?, Saat kau menenggelamkanku sejenak dalam sejuk berkepanjangan sebelum kaki langit mengetuk kembali?

Ingin aku lebur di dalam cintamu. bersama satu jiwa, terombang-ambing dalam amuk mu, Tapi, Bukankah cinta kita adalah anak dari duka sementara?

Kau adalah lautanku berdebur tanpa suara, Kekasihku. Dan aku hanya nyiur di pantai landai yang mencuba memeluk angin semilir sunyi rindumu yang tanpa kata.
Adalah ketika kamu menitikkan air mata, maka dengan kebesaran cintanya
Ia tetap peduli terhadapmu.
Sebuah kekuatan abadi yang ketika kamu tidak memperdulikannya dan dia
Masih menunggu dengan setia….
Ketulusan sejati adalah saat Sang Kekasih mulai mencintai orang lain dan
Dia masih mampu tersenyum sambil berkata ‘aku turut berbahagia untukmu….’
hujan mencurah

dingin dan resah



yang mana aku....?
aku dah berjanji untuk bercuti dari menulis.... pembetulan ya... aku tak janji dengan siapa-siapa. cuma pada diriku yang 'palui banar' ni saja. tetapi aku memang tak pernah boleh setia pada janji. selalu saja aku sendiri yang mungkiri. selalu saja aku ni di gelodak rasa. dan kesinilah aku mencari. nak melorek ke langit tinggi tak tercapai tangan... nak melorek ke bumi yang luas terlalu kerdil di bandingkan. nak menghunus pedang kilat berkilau aku tak punya kegagahan. nak mencacak lembing tepat ke sasaran aku tak punya kepandaian. sedang aku sendiri selalu tersasar. nak menjadi penyanyi terhebat... aku....? usah bermimpi atau nak berangan, pandai lagi katak memanggil hujan.

tah apa aku nak tulis ni tadi.... hai sejak bila aku jadi pelupa banar ni...?

pernah aku berkata aku tak mau lagi menulis..... mau saja aku tutup blog ini selamanya.... mau saja aku delete biar berkubur semuanya. tetapi kenapa aku tak pernah sampai hati....? kenapa hati aku tidak sekeras batu jalanan... kenapa aku masih punya rasa kasih dan kasihan.... rasa sayang.... kan bagus kalau hati aku ini tuli seperti kaldai tergigil-gigil dalam hujan sedang di belakang sarat dengan bebanan.... tuli dari segala rasa. kebas seperti bibir yang tebal saat nak mencabut gigi. ah! itu semua kalau, kalau, kalau dan kalau....

sedangkan....

jiwa; kau punya rasa....?

aku; ya... kenapa...?

jiwa; kau punya hati....?

aku; ya... kenapa...?

jiwa; aku ingat hati kau kotor... bila agaknya kau mau cuci seperti service enjin...? biar cepat pick up laju memotong, lancar tak tersangut-sangut seperti orang semput!

aku; oh ya.... kalau boleh kau buatlah apa saja pada hati ni. kau keluarkan cuci sama cloroc biar bersih berkilau. atau kau rendam saja sama asam jawa bagi kecut supaya tidak kembang membongkak rasa atau kau hiris-hiris letakkan limau nipis makan sama air asam sedap juga! atau kau gaul-gaul dengan kunyit di goreng-goreng pun sedap jua. buatlah! aku dah tak kisah... betul.... aku tak pernah bohong.... walau orang selalu kata aku ni pandai berlakon... pelakon terhebat konon... pentas pun aku tak pernah pijak. nak berdepan dengan orang pun aku tergigil (entah bilalah aku punya kekuatan... kalau sudi tolong doakan!). tah tang mana hebatnya aku ni berlakon. pelakon air mata... seperti Neng Yatimah ka? pelakon samseng dusun nyiur... seperti Salleh Kamil ka? pelakon cinta majnun dan laila nya ka...? pelakon ada-ada saja ka...? atau pelakon yang dah nak mati tetapi masih berpura ingin hidup seribu tahun lagi...? label kan la... aku ni yang mana, kan kau pandai menilai segala rasa?

aku ni bukan apa-apa.... dan bukan siapa-siapa. sang pelamun mungkin?

ya... silalah... tambah-tambah sesedap rasa! kurang garam? tambahlah.... tak cukup air laut kan ada... kurang manis? masukkan gula... tak cukup tebu kan ada... jangan manis di bibir saja... kurang pahit? kopi kapal laut kan ada... tak cukup lagi... belakang kuali banyak lagi daki.
apa yang dapat ku tuliskan....

bila air mata keluar dulu dari kata-kata
bila air mata lebih laju dari ketukan jejari
bila air mata lebih mewakili akal yang waras
bila air mata mengunci segala rasa
bila air mata menutupi segala pandangan mata
bila air mata menutupi lubang telinga yang ada
bila air mata mengunci segala sendi

maka.....

jadilah aku....?

patung yang tak bernyawa...? sedang masih ada denyut terasa

pokok yang tak berasa...? sedang aku bergerak ke mana-mana

sungai yang sentiasa mengalir...? sedang aku tak pernah mengalir tetapi selalu mengilir

laut yang tenang bergelora....? sedang aku ada tika lebih ganas dari ombak menghempas

bumi yang sentiasa menerima apa saja, pengasih dan penyayang....? sedang aku tidak pengasih, aku tuli akan kasih sayang.

langit yang sentiasa sudi dan setia mengandung awan....? aku...? setia kah aku....? kan aku selalu tak setia...?

tunggul yang reput menanti rebah ke bumi....? sedang aku masih gagah tegak berdiri

entah....
katalah apa saja.... walau seribu tangan menunjuk cara... aku tetap begini resah dalam dunia pura-pura.

aku dah muak untuk berpura-pura.... biarlah begini begitu... tapi sampai bila...?
biarlah dinding.... dan aircond ni yang tau aku.... berpura kah aku.... setia kah aku.... biarlah... biarlah.....

- jujur pun tetap di wasangka

- berbaik pun di kata pelakon terhebat, aku ni sesumpah yang boleh bertukar warna di mana-mana

- tak peduli di kata sombong tak berhati

apa aku ni....?

guni beras yang boleh di sumbat-sumbat sesuka hati...?
kayu mati yang hanya untuk unggun api....?
tempayan yang hanya untuk menakung air dan menadah segala rasa....?

berikanlah apa saja.....
moga kalian bahagia untuknya!

Monday, September 24, 2007

Sireh Ada, Pinangpun Ada
Sireh Disimpam Dalam Telapak
Kasih Ada, Sayangpun Ada
Cuma Adik yang Tak Nampak...
CINTa

Lalu berkatalah Almitra, Bicaralah pada kami perihal Cinta.

Dan dia mengangkatkan kepalanya dan memandang? ke arah kumpulan manusia itu, dan keheningan menguasai mereka. Dan dengan suara lantang dia berkata:

Pabila? cinta menggamitmu, ikutlah ia
Walaupun jalan-jalannya sukar dan curam
Pabila ia mengepakkan sayapnya,
Engkau serahkanlah dirimu kepadanya
Walaupun pedang yang tersisip pada sayapnya akan melukakan kamu.

Pabila ia berkata-kata
Engkau percayalah kepadanya
walaupun suaranya akan menghancurkan mimpimu
seperti angin utara yang memusnahkan taman-taman
kerana sekalipun cinta memahkotakan kamu
Ia juga akan mengorbankan kamu
walaupun ia menyuburkan dahan-dahanmu
ia juga mematahkan ranting-rantingmu
walaupun ia memanjat dahanmu yang tinggi
dan mengusap ranting-rantingmu yang gementar
dalam remang cahaya matahari
ia juga turun ke akar-akarmu
dan menggoncangkannya dari perut bumi

Seperti seberkas jagung
ia akan mengumpulmu untuk dirinya
mengayakkanmu sehingga terpisah kamu dari kulitmu
mengisarkanmu sehingga engkau menjadi putih bersih
mengulimu agar kamu mudah dibentuk
dan selepas itu membakarmu di atas bara api
agar kamu menjadi sebuku roti yang diberkati
untuk hidangan kenduri Tuhanmu yang suci

Semua ini akan cinta lakukan kepadamu
supaya engkau memahami rahsia hatinya
dan dengan itu menjadi wangi-wangian kehidupan
tetapi seandainya di dalam ketakutanmu
engkau hanya mencari kedamaian dan nikmat cinta
maka lebih baiklah engkau beredar dari laman cinta yang penuh gelora
ke dunia gersang yang tidak bermusim
di sana engkau akan ketawa
tetapi bukan tawamu
dan engkau akan menangis
tetapi bukan dengan air matamu

Cinta tidak memberikan apa-apa melainkan dirinya
dan tidak mengambil apa-apa melainkan daripada dirinya
cinta tidak mengawal sesiapa
dan cinta tidak boleh dikawal sesiapa
kerana cinta lengkap dengan sendirinya

Dan pabila engkau bercinta
engkau tidak seharusnya berkata
"kejadian adalah hatiku," sebaliknya berkatalah:
"aku adalah kejadian"

Dan janganlah engkau berfikir
engkau boleh menentukan arus cinta
kerana seandainya cinta memberkatimu
ia akan menentukan arah perjalananmu

Cinta tiada nafsu melainkan dirinya
tetapi seandainya kamu bercinta
dan ada nafsu pada cintamu itu
maka biarlah yang berikut ini menjadi nafsumu;
menjadi air batu yang cair
membentuk anak-anak sungai
yang menyanyikan melodi cinta
pada malam yang gelap gelita
untuk mengenal betapa pedihnya kemesraan
untuk merasa luka kerana engkau kini mengenali cinta
dan rela serta gembira
melihat darah dari lukanya
untuk bangun pada waktu fajar dengan hati yang lega
dan bersyukur untuk satu hari lagi yang terisi cinta
untuk beristirehat ketika matahari remang
untuk mengingati kemanisan cinta yang tidak terperi
untuk kembali ke rumahmu ketika air mati
dengan rasa kesyukuran di dalam hati
dan dalam tidurmu berdoalah untuk kekasihmu
yang bersemadi di dalam hatimu
dengan lagu kesyukuran pada bibirmu

Saturday, September 22, 2007


hai senja
utarakanlah cerita siang
mengejar cahaya matahari, tak kenyang lagi
untuk perut anak anak
terdampar kekeringan danau semalam sudah kemarau
usahkan banjir rindu di dadamu
hai senja
tersepit rasa satu
kesepian

hai pantai
bicarakanlah kesejukan bibirmu
di dada hari kau di sini
anak anak gelora
berbuih hala menuju arah kala itu
indah langit di atasmu
sejuk mata memandang
dingin hatimu
berbuai rasa syahdu
untuk baring di dadamu

hai pantai
mari bicara sama kita hai anak anak dunia
senja di pantai aku rindu hingga itu
.....
rindu ke aku?
di mana dunia ku?
mungkin kita ditakdirkan berbeza

dibalik deraan yang tak kunjung sirna
boleh jadi ia adalah wujud bahagia

mungkin itulah pesan yang disampaikanNya

agar sampai bilapun kita tidak pernah lupa
bahwa setiap sisi hidup adalah bahagia

"mendengar guruh di langit
air di tempayan di buang jangan..."
ibaratnya aku menunggu bahagia...?

Aku mencintai seluruh dunia
Namun dunia justeru membenciku

Aku ingin menjadi sebahagian dari dunia
Namun dunia justeru menafikan keberadaanku

Apa salahku?
Selalu pertanyaan itu kuajukan pada langit dan bumi

Kepada siapa aku harus mengeluh
Jika semuanya telah menjadi tuli

Aku selalu bersimpati pada kehidupan
Aku selalu memimpikan dunia yang tak pernah ada

Mengapa bibit dendam dan permusuhan harus ada?

Aku tahu manusia, pada akhirnya muak juga
Jika memang masa depan akan menjadi suram
Biarlah aku mati sebagai kesempurnaan

Andai saja kematianku boleh menjadi kebahagiaan
Bagi orang-orang yang menginginkannya
Aku memang sudah ingin mati
kata cinta ku turutkan,
kata sayang ku tinggalkan,
kata kasih ku lupakan,
kata ilham ku impikan....
janganlah bersedih
hentilah menangis

Thursday, September 20, 2007

dari mata ku dengar keresahan itu
dari mulut ku lihat kerinduan itu
dari telinga ku dakap kesepian itu
dari tangan ku lafaz kesetiaan itu

cinta itu dambaan hati
cinta itu luahan jiwa
cinta itu amanat sakti
cinta itu pengubat lara

kasih palsu pasti menyisih
kasih ikhlas pasti jelas
kasih jujur pasti luhur
kasih paksa pasti menyiksa
Kuawali syair ini dengan menyebut nama Allah swt, Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Kasihnya menerangi dan mencukupi segala sesuatu bagi makhluk-makhluknya, mulai dari yang melata hingga berdiri tegap, yang hidup dalam lubang pekat hingga naungan benderang cahaya…

Duhai cinta! masihkah kau ingat syair kasih dariku yang berbunyi:

Dalam penziarahan cinta, ombak lautan yang membawanya pergi pada sang kekasih adalah deburan sejati yang mengalir dari samudera ketulusan hati. Langkah kaki yang diayunkannya, bagai degup jantung yang menghidupi dan memelihara kekasihnya dari nestapa dunia.

Sedang semerbak untaian kata yang ditebarkan keudara bagai senandung abadi, yang dinyanyikan bidadari syurga.

Dapatkah kemurnian cinta menahan hasrat untuk membahagiakan kekasihnya?mungkinkah bulan akan membiarkan matahari untuk bersinar selamanya tanpa saling melengkapi dan mengisi kekosongan hari?

Tahukah kau wahai belahan jiwa?…. Tanpamu disisi membuat jiwaku laksana sebuah kapas yang diterbangkan keudara, terhempas dalam kehampaan….. dan terjatuh ketanah saat airmata kepedihan membasahinya.

Tahukah kau kekasih, dari kebun bunga-bunga jiwamu aku mengenal ketulusan, darinya aku mengenal kasih sayang; dan juga cinta. Maka injaklah tanah jiwaku dengan tapak kakimu, maka kelak darinya kan tumbuh bunga-bunga kehidupan.

Bakar dan cabutlah bunga kehidupanku dari akar jiwamu, maka sebagian jiwamupun akan ikut mati bersamanya. Marahlah padaku jika kau mau, lalu padamkanlah dengan percikan airmataku, bila kegilaanku ini kau anggap sebagai aib atau kesalahan; kerana aku tak sanggup menanggung kemarahan darimu, sebab kau begitu indah.

Dalam ketersendirianku ini kemana lagi aku akan mengeluh dan mengaduh?….sedang engkau yang menjadi nafas penupang hidup dan matahariku, kini kepada siapakah kau arahkan cahyamu?

Engkau bagaikan matahari yang berkuasa menyinari hatiku dan membawa obor kedamaian dalam hangatnya api cintaku, namun mengapa kau menahannya dariku? Pernahkah kau menyedari bahwasanya satu hari berpisah dalam Cinta sama dengan seribu tahun lamanya, dan seribu tahun bersama Kekasih terasa hanya dalam sehari.

Tatkala jiwaku haus akan kelembutan sentuh kasihmu, kemanakah genggaman jarimu kini kau eratkan? Engkau bagaikan mahkota raja-raja yang tercipta untukku, namun kepada siapakah kini ia menghias?

Mungkin saat ini engkau sedang tertawan dalam kasih sayang keluargamu, tapi mengapa bukan kegilaanku saja yang dibelenggu? Sebab aku kini telah sebatang kara, tak lagi memiliki keluarga serta sahabat yang dapat kucintai selain dirimu.

Kini aku telah tenggelam dalam samudera ketersendirianku, mungkinkah kau datang mengangkat dan meraih tanganku dalam badai keterpurukanku ini?

Berilah aku setitis embun harapan dan secercah isyarat kasihmu agar pohon jiwaku kembali hidup!

Dalam kehampaanku ini, ketahuilah bahwasanya tak ada yang dapat menghapuskan rasa cintaku darimu, sebab nyala api cintamu akan selamanya berpijar dalam hatiku!

Maafkan aku kawan, maafkan jiwa yang bebal ini. Kapal yang kubawa terlalu liar rupanya, aku yakin kau tahu, kaupun menyimpan jiwa yang semacam itu jauh dalammu, tapi kau lebih mampu menaklukannya, kau mampu membelokkannya pada saat dan putaran yang tepat. Aku??? Selaut saja tersesat, biar seribu orang sudah bicara arah yang harus kutempuh, tetap saja tak kudengar. Jiwa ini seperti menggila, melampaui perintah dan inginku sendiri, dan (selalu) lagi-lagi kami (aku dan jiwaku) tersesat entah dimana. Aku dapat melihatmu, mereka, tapi suaraku tak sampai, begitupun suara kalian. Jiwa ini terlalu memusuhi perintah, ingin bebas sebebas-bebasnya; tapi bodoh. Dan jadilah kami jiwa raga tanpa sauh, tanpa pelabuhan pasti dalam pelayaran-pelayaran kacau.

Luka menitik dengar panggilanmu, aku seperti meninggalkanmu tanpa menoleh, tanpa mempertanggungjawabkan api yang pernah kita tiup bersama; dan kau kini sendirian menjaganya dan sedari dulu aku memang sering membuatmu sendiri atau menunggu. Aku tak ingin meminta maaf padamu, takut maaf itu melambangkan berpalingnya aku sepenuhnya, aku tak boleh.

Sama sepertimu, jiwa ini masih lengang mencari arah kemana ia menyelamkan diri utuh penuh. Kata yang selalu menggetarkan itu, seni, seniman, menjadi kalimat yang tak beralas, paragraf tak berinduk, lantas kesepian dalam haus tak henti.

Maafkan aku kawan, maafkan jiwa yang bebal ini. Tapi ini bukan titik, selama nyawa masih bersabung, selama itu kemungkinan tak pernah mati. Yang sudah tak mungkin terulang, tapi langkah sejati akan terus membuat jejaknya.

Masih ada langit yang lebih luas lagi.... Kupikir kesanalah kita harus berenang, bersama, ruang dan waktu bukanlah halangan. Selama kita masih melangkah, kita masih beriringan.
Seperti inikah keberanian yang kau ajarkan itu? Menggores garis-garis warna yang lemah dengan ketegasan warna lainnya, sehingga mereka menggeliat, mengeluarkan cahaya tersembunyi, melahirkan warna baru yag meliuk dalam. Sepertinya ini bahagian kecil dari ilmu penciptaan, memadu-padukan mereka yang terlihat berseberang dan tak sentuh-menyentuh. Kita harus pasti, melibasnya tanpa ragu, itu juga erti keberanian yang kau ajarkan?
cintaMu rimbunan kembang
yang kusentuhi
di hamparan luas
kulit telapak tanganku
dapat merasa Maha KelembutanMu
yang Kauhulurkan
pada jalanan kasar kehidupan
seperti sempurnanya kasih alam
terbuka jarak sempadan
inikah saatnya
Kausingkap tabirku
kutahu, Kau memandangku
dalam rahsia
lebih jauh dari syurgaMu
merapatlah
maut sedang mengujiku
akulah anasir yang Kaupisahkan
remuk di angin malam
seperti debu di jalanMu
masih kubawa
lentera yang asing ini
malam tak akan bererti
tanpa Kau
kemilau bintang tak akan bererti
tanpa Kau
dan semua jalan tak akan bererti
tanpa Kau
telah kupilih
tempat yang sunyi
ketika tiada seorang pun
ingin melihat Kau
dalam rumahMu
mereka padamkan lampu-lampu
mereka tutupkan semua jendela
mereka tutupkan semua pintu
mereka usirkan makna percintaan
terimalah lenteraku ini
kerana aku lebih mengenaliMu
dengan sumbu yang melahirkan cahaya rahmatMu
rumah bagiMu
bukanlah syurga tempat kesenangan
kalau terkunci di dalamnya
semua kebebasan
akan kuucapkan kata-kata yang diam
dan lihatlah
Kau telah hadir
dalam berbagai-bagaikan pekerjaan
di alam yang luas ini
tiada yang lebih bahagia
selain melihatMu
dalam sari kehidupanku
dan Kau melihatku
dalam kerjaMu yang abadi

Wednesday, September 19, 2007

aku sengaja bermain api. kubuka semua jalur ke masa lalu dalam berbagai jalan, semakin jauh aku menyelusur, semakin tak mengerti mengapa hari ini ada.

apa saja yang ada dalam kenangan?
aku ingin memelukmu, kita pejamkan mata. aku ingin memelukmu dengan peluk yang selalu gagal terlaksana, aku ingin memelukmu dengan benar.
Tidak kutemukan jejak kemenangan di sini, tidak juga detak-detak kebebasan hati. Pengap dalam semesta mengumpal dada. Tuhanku, nama-Mu didengung-dengung jiwa-jiwa suci, tapi aku bahkan gagap mengeja huruf pertamanya. Tanah dan langit yang terpijak hilang idea, tanpa wajah, menyarungi aku, gundah.

Kemenangan! Mereka meneriakkan kemenangan! Tuhanku, serdadu yang mangkir ini, malah menjauhinya. Tuhanku, aku kehilangan makna hari-hari. Hati menuntut lebih deras dari detakan detik jam, nafsu meracau melebihi kerasnya firman-Mu. Urat kenikmatan terus menarik-narik, menyorongkan hidangan pembuka murka-Mu.

Wajahku retak, seratus kemenangan meninggalkanku. Apalah etinya, apakah bererti, setumpuk amal tambal-sumbal yang kuhendaki khusus untuk-Mu?

Kalau kemenangan tak kau beri, salaam, cukup basahi kerongkonganku dengan salaam.
bertahanlah

bertahanlah

ketika semua yang tampak penting meninggalkanmu
bertahanlah
ketulusan akan terus dikupas
dengan perpisahan
dengan kemustahilan

tengok sejarah
siapa yang tercatat?
apakah mereka yang pergi
atau dia yang bersimbah pada pegangan

ketulusan
adalah buah yang harus dibuka kulitnya
berduri, ataupun keras.

kemurnian adalah pucuk mawar
penuh duri tangkainya

bertahanlah

Monday, September 17, 2007

apalagi yang dapat aku katakan?
pabila semuanya telah sirna?

mungkin diluar udaranya menyejukkan?

airmata....
berjanjilah jangan lagi menitis
(kau sendiri tau... kita tidak punya sesiapa lagi di maya ini)

matahari.... jangan kau hilang
sebelum malam....
aku kan pulang.
dada semakin sakit
mata semakin pedih
alam seakan sunyi
bayu seakan terhenti
hening dingin....
aku mohon rehat dahulu

dapatkah aku?

Tuhan.... istirehatkanlah aku tuk selamanya...

malam....
jangan kau datang
aku bimbang tidak punya ketabahan
bintang ku tidak sudi lagi bertandang
macam mana harus aku bernafas sedangkan dada aku makin sempit dihimpit batu api dari neraka jahanam? macam mana harus aku berjalan sedangkan kaki ini sudah tidak punya kuasa melawan dan hidup jadi semakin kelam? macam mana harus aku hentikan air mata bila hati aku jadi sedih dan merintih pedih? macam mana harus aku hadapi dunia yang penuh dugaan bila mata aku tak nampak jalan di depan? macam mana harus aku teruskan hidup ini bila nyawa aku yang separuh lagi sudah berpisah dari badan?

lalu, gembira datang gembira pun pergi. gembira pergi takkan datang-datang lagi.


ya,
gembiralah kau sepenuhnya
Tuhanku,
pelukkanlah aku dalam rahmatMu.

kerana isnin ini terlalu panjang.

dan runtun ini terlalu, terlalu dalam....


isnin, 17 sepetember 2007.
tak, takkan siapa faham apa yang aku rasa sekarang. aku tidak mengadu domba pada sesiapapun, kecuali Tuhan. dan sebenarnya pun aku tiada siapa-siapa di dunia ini kecuali Dia. saat-saat begini, biarlah aku pilih diam. diam itu pun memang aku sejak dulu-dulu, jadi tiada apa yang perlu dihairankan.

kau juga mau diam sekarang?

Tuhan aku tau Kau tetap ada
aku bukan sahaja membiarkan orang lain bercakap dengan angin. mereka tak tahu aku sudah menjadi batu, dan tiada objek lain yang aku nampak di sekeliling termasuk hilangnya dinding-dinding. dan menjadi bisu. dan hujan pun jadi tak sudi berkawan dengan aku.

kau bayu?
masih adakah sudi lagi....
aku penat mengawal perasaan. penat juga melawan bengkak mata akibat tangisan yang tidak terkawal. dan melawan sakit dada. dan sakit kepala. dan sakit jiwa. ada masa yang tidak terjangkakan, bumi ini macam tiada oksigen lagi. mungkin oksigen masih ada tapi saluran nafas aku yang tersekat. atau oksigen sudah menjadi petak-petak, bukan bulat-bulat.

airmata....
sampai bila kau mau berhenti?
hidup, betul-betul macam kaca. tunggu masa untuk jatuh dan retak, dan berderai, takkan bercantum lagi. makin tiba saat-saat genting, makin meruncing, ibaratnya.

retaklah
jatuhlah
pecahlah

kan aku hidup hanya untuk itu?
disaat hiba melahirkan kecewa
dikala keindahan senja hilang seri
kemurungan menyelubungi hati
tatkala belaian ibu tiada rasa jiwa
terbukti keanggunan bicara dibibir saja
tidak bisa dibawa kehujung titisan darah
diketika saat hembusan terakhir
terasa pelangi cerah hanya mainan sementara...

Pelangi Petang

Kumeniti awan yang kelabu
Kutempuhi lorong yang berliku
Mencari sinar yang menerangi
Kegelapanku

Kupercaya pasti suatu masa
Sang suria kan menyinar jua
Membawa harapan yang menggunung
Bersamanya...

Engkau tiba bagaikan pelangi
Tak bercahya namun kau berseri
Tapi cukup menghiburkan
Hati ini

Seharian waktu bersamamu
Tak terasa saat yang berlalu
Bagai pelangi petang kau kan pasti
Pergi jua...
ada cerita di sebalik cerita
ada duka di sebalik suka
ada nestapa di sebalik gembira
ada luka di sebalik tawa
ada sembunyi di sebalik nyata
ada gundah di sebalik tenang wajah

dan saat ini aku hanya ingin menangis....
tetapi mampukah tangisan mengembalikan
kau kepadaku yang dulu?

terbanglah sebebas mu...
seperti rama-rama baru kembang sayapnya.
sebiru awan.... seputih kasih....
setenang laut.... seriak hati.

dan kini....
laut itu bukan lagi milikku,

kau tersenyumlah!
usah duka memikirkan aku....

sesungguhnya aku telah terbiasa dengan kesusahan....

tenangkah laut?
atau aku yang bergelombang?
hening... sepi... bergetar rasa,
berbisik hati, menjerit jiwa....

dan kini segalanya seakan terus sunyi.

apakah aku telah mati...?
seindah senyummu kasih...

dan, saat segalanya menjadi
yang terakhir darimu... apakah
takdir akan melihatkan keindahannya
lagi...?
pada siapa harus aku sandarkan
kasih ini.... siapa yang bisa membebat
luka ini? Dia?

bantulah aku yaAllah.
pedihnya menusuk.
Kasih.... Mengapa menghilang?
Cinta mengapa kau datang?
kita sememangnya ditakdirkan
bercinta dan bersama. namun
tidak untuk selama-lamanya.
sebentar....

kenapa abang suka salahkan mummy.
my pun ada masalah tersendiri.
terpaksa selesai sendiri masalah semua ni.
terpulang pada abang. nak off tel of la.
rehat tak perlu abis duit tp up. abang mummy
ada pun sama ja. my pun tak leh nak tolong
papa. k na moga selamat selalu...

****

ya la. lupa dy terlalu banyak dah membebankan
my. tima kasih segala pertolongan my pada dy selama
ni. takkan dy lupa sampai mati. dy tau my akan
slalu jaga diri my baik-baik. slamat walau di mana
my berada. allah lindungi tiap langkah my.

Saturday, September 15, 2007

barangkali
tangis
adalah berkah
walau di pelupuk mata
menggenang darah

mungkin
tawa
adalah bencana
meski di dalam dada
menggumpal bahagia

siapa tahu
tanya

adalah akhir
biar di sela kata
terselip koma

atau jangan-jangan
jawab
adalah awal
kendati di akhir kalimat
tertutup titik.

bukan begitu, Tuhan?
atau bukan?

Sehelai daun kehidupan
Menyimpan saripati kenangan
Terselit diantara lembaran buku waktu
Suatu hari ia akan bicara tentang masa-masa itu

langit cerah
bumi merekah
daun luruh
batang patah
pohon rebah

awan rendah
hujan mencurah
tanah basah
putik bercambah
mawar merah
bumi meriah
kembali kepada fitrah
Jika seseorang itu
menyebarluaskan rahsianya
dengan mulutnya sendiri,
dan kemudian menyalahkan orang lain…
maka dia adalah seorang yang bodoh

Jika dadanya adalah terlalu sempit
untuk menyembunyikan rahsianya,
maka dada seseorang
yang dia letakkan padanya rahsia itu
malah lebih sempit
Janganlah kamu hanya berdoa
“Ya Allah, Ya Tuhanku! Anugerahlah hambamu rezeki”
Sesungguhnya kamu harus mengerti
Bahawa langit itu tidak menurunkan
Hujan emas dan perak